RSS

Revitalisasi Investasi dan Kinerja Ekspor Tehadap Nilai Tukar (Exchange Rate)

20 Mar

PERANAN REVITALISASI INVESTASI DAN EKPOR TERHADAP NILAI TUKAR 

Salah satu ciri era globalisasi yang menonjol saat ini adalah adanya arus uang dan modal dalam bentuk valas atau foreign currency antara berbagai pusat keuangan negara yang main besar dan cepat, seakan-akan mengalir tanpa mengenal kewarganegaraan pemiliknya dan tanpa batas wilayah (bordeles). Kurs (Exchange Rate) mata uang merupakan salah satu variabel ekonomi makro yang sangat penting, karena gejolak kurs akan dapat mempengaruhi stabilitas perekonomian suatu Negera, khususnya Negara Indonesia.

Terdapat 2 faktor penyebab tren melemahnya nilai tukar rupiah yaitu penurunan kinerja ekspor dan Investasi (arus modal asing). Pertama tren melemahnya nilai tukar rupiah bisa dilihat dari aspek penurunan arus modal masuk.  Krisis perekonomian global mengakibatkan aliran dana pada emerging markets seperti Indonesia mengalami penurunan. Hal ini dikarenakan investor mencari tempat yang aman untuk memarkir dana, sehingga negara dengan tingkat resiko tinggi seperti Indonesia mulai ditinggalkan. Nilai tukar Rupiah dalam beberapa bulan kedepan diprediksi masih akan melemah. Faktor penting lainya yang yang dapat mempengaruhi kekuatan Rupiah adalah revitalisasi investasi (arus modal asing) yang masuk ke Indonesia.

Kedua  tren melemahnya nilai tukar rupiah yaitu bisa dilihat dari penurunan surplus perdagangan (kinerja ekpor). Kondisi ini bisa teridentifikasi dengan melemahnya perekonomian dunia yang menyebabkan permintaan barang dari Indonesia secara logika akan menurun. Penurunan kinerja ekspor tersebut berdampak pada menurunnya permintaan akan Rupiah. Sehingga apabila kinerja ekspor tidak membaik, maka nilai tukar Rupiah diprediksi akan terus mengalami pelemahan.

2.1  Investasi

Kegiatan investasi dapat mendorong suatu masyarakat dalam suatu Negara terus menerus meningkatkan kegiatan ekonomi dan kesempatan kerja, meningkatkan pendapatan nasional dan meningkatkan taraf kemakmuran masyarakat. Menurut Boediono (1992) dalam Deddy Rustiono (2008:41) menjelaskan bahwa investasi adalah pengeluaran oleh sector produsen (swasta) untuk pembelian barang dan jasa untuk menambah stok yang digunakan atau untuk perluasan pabrik.

Menurut Mankiw (2006:476) Pengeluaran untuk konsumi barang bertujuan untuk menyediakan kebutuhan rumah tangga saat ini, sedangkan pengeluaran untuk barang-barang investasi bertujuan meningkatkan standar hidup untuk tahun-tahun mendatang. Investasi adalah komponen GDP yang mengaitkan masa kini dan masa depan. Mankiw (2006:476) membagi jenis investasi kedalam 3 kategori yaitu : (1) Investasi Tetap Bisnis (business fixed investment) mencakup peralatan dan struktur  yang dibeli perusahaan untuk proses produksi (2) Investasi Residensial (residential investment) mencakup rumah yang baru yang dibeli untuk tempat tinggal dan yang dibeli tuan tanah untuk disewakan (3) Investasi Persediaan (inventory investment) mencakup barang-barang yang disimpan perusahaan di gudang, termasuk bahan-bahan  dan persediaan, barang dalam proses dan barang jadi.

Sedangkan Hamdy Hady (2009:92) secara umum arus modal internasional ini dapat bersifat  hal-hal berikut (1) Portofolio Invesment, yaitu arus modal internasional dalam bentuk investasi asset-aset financial, seperti saham (stock), obligasi (bond), dan commercial papers lainya.  Arus portofolio ini lah yang paling banyak dan cepat mengalir ke seluruh dunia melalui pasar uang dan pasal modal dipusat-pusat keuangan internasional. (2) Direct Invesment, yaitu investasi riil dalam bentuk pendirian perusahaan, pembangunan pabrik, pembelian barang modal, tanah, bahan baku, dan persediaan dimana investor terlibat langsung dalam manajemen perusahaan dan mengontrol penanaman modal tersebut. Direct Invesment ini biasanya dimulai dengan pendirian subsidiary atau pembeian saham mayoritas dari seuatu perusahaan. Dalam konteks internasional, bentuk investasi ini biasaya dilakukan oleh perusahaan multinasional (MNC) dengan operasi di bidang manufaktur, indutri pengolahan, ektraksi sumber alam, industry jasa dan sebagainya. Selain itu menurut Purnomo Yusgiantoro (2004:188) Keputusan manajemen corporate untuk melakukan investasi internasional  mencakup tiga pertimbangan penitng yaitu pertama, motivasi untuk melakukan investasi internasional: kedua, dimana lokasi investasi onternasional akan dilakukan; ketiga bagaimana investasi itu dilakukan.

Menurut Purnomo Yusgiantoro (2004:188) mengidentifikasi beberapa motivasi perusahaan untuk melakukan investasi internasional sebagai berikut (1), pencari pasar (marketing seekers) memproduksi produknya di luar negeri untuk mencari peluang pemasaran diluar negeri dan ekspor (2), pencari faktor produksi (production factor seekers)  memproduksi penduduknya di luar negeri untuk mendapatkan bahan mentag atau faktor produksi tertentu yang akan digunakan dalam proses produksinya (3), pencari efisinesi produksi (production efficiency seekers) memproduksi produknya diluar negeri untuk mendaptkan biaya produkusi yang murah atau efisien sehingga produknya dapat bersaing. (4), pencari pengetahuan (knowledge seekers) memproduksikan produknya diluar negeri untuk mendapatkan dukungan teknologi dalam proses produksinya (5), pencari keselamatan politik (policy safety seekers) memproduksinya produknya diluar negeri di tempat yang mempunyai stabilitas politik yang mantaf sehingga mengurangi resiko politik.

2.2   Ekspor

Ekspor adalah proses transportasi barang atau komoditas dari suatu negara ke negara lain[1]. Menurut Purnomo Yusgiantoro (2004:20) bahwa keterlibatan bisnis internasional yang paling sederhana adalah memanfaatkan surplus dari kapasitas produksi domestik. Dalam beberapa hal, kegiatan ekspor  memang dilakukan untuk mendapatkan devisa, tanpa kebutuhan domestik

Kegiatan ekspor terbagi menjadi 2, yaitu:[

Ekspor langsung

Ekspor langsung adalah cara menjual barang atau jasa melalui perantara/ eksportir yang bertempat di negara lain atau negara tujuan ekspor.[3] Penjualan dilakukan melalui distributor dan perwakilan penjualan perusahaan.[3][4] Keuntungannya, produksi terpusat di negara asal dan kontrol terhadap distribusi lebih baik. Kelemahannya, biaya transportasi lebih tinggi untuk produk dalam skala besar dan adanya hambatan perdagangan serta proteksionisme.[3][5

Ekspor tidak langsung

Ekspor tidak langsung adalah teknik dimana barang dijual melalui perantara/eksportir negara asal kemudian dijual oleh perantara tersebut.[3] Melalui, perusahaan manajemen ekspor ( export management companies ) dan perusahaan pengekspor ( export trading companies ).[4] Kelebihannya, sumber daya produksi terkonsentrasi dan tidak perlu menangani ekspor secara langsung. Kelemahannya, kontrol terhadap distribusi kurang dan pengetahuan terhadap operasi di negara lain kurang.[5] Umumnya, industri jasa menggunakan ekspor langsung sedangkan industri manufaktur menggunakan keduanya.[3]

 

Tahap-tahap ekspor

Dalam perencanaan ekspor perlu dilakukan berbagai persiapan, berikut ini 4 langkah persiapannya:[4] (1) Identifikasi pasar yang potensial (2) Penyesuaian antara kebutuhan pasar dengan kemampuan, SWOT analisis (3) Melakukan Pertemuan, dengan eksportir, agen, dll (4)Alokasi sumber daya.

Komoditi Ekspor Indonesia

Secara umum produk ekspor dan impor dapat dibedakan menjadi dua yaitu barang migas dan barang non migas. Barang migas atau minyak bumi dan gas adalah barang tambang yang berupa minyak bumi dan gas. Barang non migas adalah barang-barang yang bukan berupa minyak bumi dan gas, seperti hasil perkebunan, pertanian, peternakan, perikanan dan hasil pertambangan yang bukan berupa minyak bumi dan gas.

Produk ekspor Indonesia meliputi hasil produk pertanian, hasil hutan, hasil perikanan, hasil pertambangan, hasil industri dan begitupun juga jasa.

  • Hasil Pertanian, yaitu karet, kopi kelapa sawit, cengkeh, teh, lada, kina, tembakau dan cokelat.
  • Hasil Hutan, yaitu kayu dan rotan. Ekspor  kayu atau rotan tidak boleh dalam bentuk kayu gelondongan atau bahan mentah, namun dalam bentuk barang setengah jadi maupun barang jadi, seperti mebel.
  • Hasil Perikanan,  hasil perikanan yang banyak di ekspor merupakan hasil dari laut. produk ekspor hasil perikanan, antara lain ikan tuna, cakalang, udang dan bandeng.
  • Hasil Pertambangan, yaitu barang tambang yang di ekspor timah, alumunium, batu bara tembaga dan emas.
  • Hasil Industri, yaitu semen, pupuk, tekstil, dan pakaian jadi.
  • Jasa, dalam bidang jasa, Indonesia mengirim tenaga kerja keluar negeri antara lain ke malaysia dan negara-negara timur tengah.

2.3   Pengertian Kurs (exchange rate)

Kurs adalah suatu perbandingan nilai tukar mata uang suatu negara dengan negara lain. Dalam artian mata uang suatu negara dengan negara lain digunakan untuk transaksi ekonomi internasional. Motivasi seseorang, perusahaan, dan pemerintah yang mengadakan proses transaksi penukaran mata uang negaranya untuk memperoleh mata uang asing karena dibutuhkan sebagai transaksi manajemen keuangan internasional.  Berikut ini pendapat para ahli tentang kurs dijelaskan secara rinci pada tabel 2.1 berikut ini.

No

Tokoh

Pengertian

1

Mankiw (2006 : 128) Kurs (exchange Rate) antar kedua negara adalah tingkat harga yang disepakati penduduk kedua negara untuk saling melakukan perdagangan

2

Purnomo Yusgiantoro (2004:111) Nilai Tukar (Exchange Rate) atau kurs adalah harga mata uang (domestic)  terhadap mata uang asing.

3

Sadono Sukirno (2006 : 397) Kurs (nilai tukar) adalah satu nilai yang menunjukkan jumlah mata uang dalam negeri yang diperlukan untuk mendapatkan satu unit mata uang asing”.
Nopirin (1995 : 137) Kurs adalah pertukaran antara dua mata uang yang berbeda yang kemudian akan terdapat perbandingan nilai/harga kedua mata uang

4

Hamdy Hady (2009 : 24) Valuta asing (valas) atau foreign exchange (forex) atau foreign currency diartikan sebagai mata uang asing dan alat pembayaran lainnya yang digunakan untuk melakukan atau membiayai transaksi ekonomi keuangan internasional atau luar negeri dan biasanya mempunyai catatan kurs resmi pada Bank Sentral atau Bank Indonesia

2.4   Jenis-jenis kurs (exchange Rate)

Menurut Hamdy Hady (2009 : 15) Berdasarkan perkembangan sistem moneter internasional sejak berlakunya Bretton Woods System pada tahun 1947, pada umumnya dikenal tiga macam  penetapan kurs valas atau forex rate yang dijelaskan sebagai berikut 

2.4.1     Standar Kurs Tetap (Fixed Excange Rate)

Berdasarkan articles of agreement tentang IMF atau yang dikenal  sebagai Bretton Woods System yang berlauefektif sejak tanggal 11 Maret 1947 hingga 15 Agustus 1971 (Dekrit Dixon) telah ditetapkan suatu sistem moneter internasional (SMI) dengan beberapa pokok sebagai berikut.

  • Sistem moneter internasional didasarkan pada standar emas dengan pengertian bahwa setiap mata uang negra anggota IMF dikaitan dan komvertibel dengan emas atau gold exchange standard. Dalam hal ini, sebagai standar yang ditetapkan bahwa uang dolar AS senilai $35 ekuivalen dengan satu ounce atau 28,3496 gram emas. Disamping itu , USD juga digunakan sebagai ‘’numeraine’’ atau standar kesatuan hitung dimana mata uang Negara anggota IMF lainya dikaitkan (pegged) dengan USD. Negara anggota IMF lainya dikaitkan dengan emas.
  • Sistem nilai tukar (foreign exchange rate) antara anggota IMF harus tetap atau stabil
  • Kurs nilai tukar hanya boleh berfluktuasi atau bervariasi antara 1 sampai 2,5 % diatas atau dibawa kurs resmi
  • Setiap Negara anggota IMF pada prinsipnya dilarang menggunakan kebijakan devaluasi, yaitu penurunan nilai mata uangnya terhadap valas untuk memperbaiki posisi atau mengatasi deficit balance of payment atau BOPnya
  • Negara anggota IMF yang mengalami kesulitan BOP dapat meminta bantuan IMF dalam bentuk special drawing right (SDR). SDR adalah uang kertas emas yang dikeluarkan oleh IMF pada tahun 1969 sebagai reserve currency dan likuiditas internasional disampai USD semenjak timbulnya krisis moneter internasional pada akhir decade 1960an karena adanya kriis kepercayaan terhadap USD

2.4.2     Standar Kurs Mengambang (Floating Exchange Rate)

Floating Exchange Rate adalah sistem kurs mengambang yang ditetapan melalui mekanisme kekuatan permintaan dan penawaran. Sistem ini dibagi dua yaitu

  • Sistem kurs mengambang secara murni clean float atau freely floating system, yaitu penentuan kurs valas dibursa valas terjadi tanpa campur tangan pemerintah
  • Sistem kurs mengambang terkendali atau dirty float atau managed float system, yaitu penentuan kurs valas dibursa valas terjadi tanpa campur tangan pemerintah yang mempengaruhi permintaan dan penawaran valas melalui berbagai kebijaka dibidang moneter, fiscal, dan perdagangan luar negeri.

 

2.4.3     Pagged Exchange Rate System Standar Kurs Relatif

Sistem nila tukar ini ditetapkan dengan cara mengaitkan nila tukar mata uang suatu Negara dengan nilai tukar mata uang Negara ;ain atau sejumlah mata uang tertentu. Sistem ini antara lain ditetapkan oleh beberapa Negara Afrika yang mengaitkan nilai mata uannya dengan mata uang perancis (FRF) dan beberapa Negara lain yang mengaitkan nilai mata uangnya dengan GBP, USD dan SDR.

 

2.5   Faktor-faktor yang mempengaruhi kurs (exchange rate)

Proses transaksi valuta asing yang cepat dalam memenuhi tuntunan perdagangan, investasi dan spekulasi dari suatu tempat yang surplus ke tempat yang defisit dapat terjadi jika adanya beberapa faktor atau kondisi yang berbeda sehingga berpengaruh dan menimbulkan perbedaan kurs valas atau forex rate di masing-masing tempat.

Menurut Maurice D. Levi (1996:132) menjelaskan terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi kurs yaitu : (1) Nilai Tukar Perdagangan, harga ekspor Negara relative terhadap harga impornya dinamakan nilai tukar perdagangan Negara. Nial tukar perdagangan suatu Negara dikatakan meningkat ketika harga ekspor meningkat relative terhadap harga impornya. (2) Inflasi, yang mempengaruhi daya saing produk suatu negara dibandingkan produk yang  sama atau serupa dari negara lain.

Aliran valas yang besar dan cepat untuk memenuhi tuntutan perdagangan, investasi, dan spekulasi dari suatu tempat yang surplus ketempat yang defisit  dapat terjadi karena adanya beberapa faktor atau kondisi yang berbeda sehingga berpengaruh, dan ,menimbulkan perbedaan kurs valas (forex rate) di masing-masing tempat. Menurut Hamdy Hady (2009:40) beberapa faktor yang mempengaruhi kurs yaitu : (1), Supply dan Demand Foreign Currency (2), Posisi BOT dan BOP (3), tingkat inflasi (4), tingkat bunga, (5), tingkat income (6), pengawasan pemerintah (7), ekspektasi/spekulasi/isu dan Rumor

Menurut Jeff Madura (1998:188) setiap negara memiliki sebuah badan pemerintah yang dapat mengintervensi dipasar valuta asing untuk mengendalikan nilai mata uangnya itu.  Tingkat dimana mata uang rumah dikendalikan, dikelola bervariasi antara bank sentral.Tiga alasan umum bagi bank sentral untuk mengelola nilai tukar adalah (1) Untuk kelancaran pergerakan nilai tukar (2) Untuk menetapkan batasan nilai tukar implisit (3) Untuk menanggapi distrubances sementara

Revitalisasi Investasi dan Ekpor

3.1   Investasi

Investasi berperan sangat penting bagi kelangsungan pembangunan ataupun pertumbuhan ekonomi. Menurut Sadono Sukirno (2000) dalam Deddy Rustiono (2008:42) kegiatan investasi memungkinkan suatu masyarakat terus menerus meningkatkan kegiatan ekonomi dan kesempatan kerja, meningkatkan pendapatan nasional dan meningkatkan taraf kemakmuran masyarakat. Peranan ini bersumber dari tiga fungsi penting dari kegiatan investasi, yakni (1) investasi merupakan salah satu komponen dari pengeluaran agregat, sehingga kenaikan investasi akan meningkatkan permintaan agregat, pendapatan nasional serta kesempatan kerja; (2) pertambahan barang modal sebagai akibat investasi akan menambah kapasitas produksi; (3) investasi selalu diikuti oleh perkembangan teknologi.

Berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah  dalam rangka meningkatkan iklim investasi Negara. Akan tetapi pada berbagai kondisi iklim investasi senantiasa dihadapkan pada berbagai permasalahan. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut.

1)        Belum terciptanya law inforcement setelah  disahkannya Undang-undang Penanaman Modal baru yang diharapkan dapat memberikan kepastian hukum dan kepastian usaha;

2)        Masih banyak tumpah tindihnya koordinasi antarinstansi terkait di tingkat pusat dan di tingkat daerah mengenai penanganan kegiatan investasi yang dilakukan oleh dunia usaha;

3)        Masih rumit dan panjangnya proses perizinan investasi sehingga mengakibatkan tambahan biaya bagi para investor untuk menanamkan modalnya di Indonesia;

4)        Masih rumitnya administrasi perpajakan dan kepabeanan, belum kondusifnya pasar tenaga kerja, dan masih rawannya beberapa daerah untuk kegiatan investasi; dan

5)        Kurang memadainya kapasitas dan kualitas infrastruktur baik di dalam mendukung investasi yang sudah ada maupun investasi baru.

Adapun perkembangan realisasi investasi PMA berdasarkan laporan kegiatan penanaman modal (LKPM) menurut sektor dijelaskan pada tabel berikut.

Tabel 3.1 Perkembangan Realisasi Investasi PMA

Berdasarkan Laporan Kegiatan Penanaman Modal (LKPM) Menurut Sektor Tahun 2010-2011

NO

S E K T O R / S e c t o r

2010

2011

PROYEK

INVESTASI

PROYEK

INVESTASI

I

SEKTOR PRIMER / Primary Sector

420

3.042,3

643

4452,4

1

Tanaman Pangan & Perkebunan / Food Crops & Plantation

158

750,9

243

1030,9

2

Peternakan / Livestock

8

4,7

3

0,9

3

Kehutanan / Forestry

12

39,4

14

11,5

4

Perikanan / Fishery

19

18,0

22

8,3

5

Pertambangan / Mining

223

2.229,3

361

3400,7

II

SEKTOR SEKUNDER / Secondary Sector

1,096

3.357,1

1342

5181,8

6

Industri Makanan / Food Industry

194

1.025,9

223

782,8

7

Industri Tekstil / Textile Industry

112

154,8

143

373,3

8

Ind. Barang Dari Kulit & Alas Kaki / Leather Goods & Footwear Industry

31

144,1

46

175,9

9

Industri Kayu / Wood Industry

31

43,1

24

44,5

10

Ind. Kertas dan Percetakan/Paper and Printing Industry

33

46,4

41

199,2

11

Ind. Kimia dan Farmasi / Chemical and Pharmaceutical Industry

159

798,4

197

1243,7

12

Ind. Karet dan Plastik / Rubber and Plastic Industry

97

105,0

124

350,9

13

Ind. Mineral Non Logam / Non Metallic Mineral Industry

8

28,4

38

62

14

Ind. Logam, Mesin & Elektronik / Metal, Machinery & Electronic Industry

274

589,6

318

1427,2

15

Ind. Instru. Kedokteran, Presisi & Optik & Jam/Medical Preci. & Optical Instru, Watches & Clock Industry

3

1,4

7

0,9

16

Ind. Kendaraan Bermotor & Alat Transportasi Lain/Motor Vehicles & Other Transport Equip. Industry

98

393,8

115

467,5

17

Industri Lainnya / Other Industry

56

26,2

66

53,8

III

SEKTOR TERSIER / Tertiary Sector

1,565

9.815,3

1609

4710,5

18

Listrik, Gas dan Air / Electricity, Gas & Water Supply

42

1.428,4

56

1161,6

19

Konstruksi / Construction

70

619,9

59

102,1

20

Perdagangan & Reparasi / Trade & Repair

772

784,7

713

654,5

21

Hotel & Restoran / Hotel & Restaurant

144

312,1

177

136,6

22

Transportasi, Gudang & Komunikasi/Transport, Storage & Communication

123

5.046,2

105

2150,4

23

Perumahan, Kawasan Ind & Perkantoran/Real Estate, Ind. Estate & Business Activities

67

1.050,2

95

219,3

24

Jasa Lainnya / Other Services

347

573,8

404

285,9

  JUMLAH / Total

3,081

16.214,8

3594

14344,6

Investasi dalam US$. Juta Sumber : Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Tahun 2012

Dari tabel 3.1 diatas bisa digambarkan bahwa investasi dalam bentuk penanaman modal asing (PMA) terjadi penurunan dari Tahun 2010 yaitu sebesar 16.214,8 dan Tahun 2011 yaitu sebesar 14.344,6

Berdasarkan permasalahan kinerja investasi yang digambarkan diatas, untuk meningkatkan nilai tukar (exchange rate) yaitu perlu adanya revitalisasi dalam bidang investasi. Adapun langkah-langkah kebijakan revitalisasi investasi yaitu (1) implementasi dan sosialisasi secara maksimal Undang-undang Penanaman Modal yang telah disahkan kepada stakeholder dan masyarakat; (2) melakukan penyederhanaan prosedur perizinan investasi Penanaman Modal Asing (PMA) dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) melalui penyempurnaan pelayanan investasi yang lebih komprehensif di BKPM sebagaimana telah diatur dalam Keppres No. 29 tahun 2004 tentang penyelenggaraan penanaman modal dalam rangka PMA dan PMDN melalui sistem pelayanan satu atap; (3) meningkatkan konsistensi peraturan perundangan yang terkait dengan penanaman modal melalui sinkronisasi peraturan baik antarsektor ekonomi maupun antar pemerintah pusat dan daerah; (4) menyusun sistem insentif bagi kegiatan investasi agar Indonesia mampu bersaing dengan negara lain untuk menarik investasi pada sektor/bidang usaha dan lokasi tertentu, termasuk insentif bagi pembangunan infrastruktur; (5) meningkatkan citra Indonesia sebagai lokasi investasi yang aman dan menguntungkan melalui pelaksanaan Event Tahun Investasi Indonesia dengan peningkatan kualitas kegiatan promosi dan kerja sama investasi yang lebih terarah dan terfokus; dan (6) membantu investor dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi antara lain melalui pendayagunaan Tim Peningkatan Ekspor dan Peningkatan Investasi.

 

3.2   Revitaliasi Kinerja Ekpor.

Menurut Purnomo Yusgiantoro (2004:117) kenaikan ekspor akan meningkatkan suplai dolar Amerika (mata uang Negara 2) ke Indonesia (Negara 1), dengan anggapan tidak ada hambat, yang terjadi adalah apresiasi rupiah atau depresiasi dolar Amerika. Kenaikan impor akan meningkatkan kebutuhan dolar Amaerika (mata uang Negara 2) ke Indonesia (Negara 1), dengan anggapan tidak ada hambatan, yang terjadi adalah depresiasi rupiah atau apresiasi dolar Amerika. Kondisi perekonomian di Indonesia masih cenderung stabil, akan tetapi kinerja ekspor harus terus didorong agar terjadi apresiasi nilai rupiah. Akan tetapi data outlook ekonomi Indonesia Tahun 2008-2012 yang dirilis oleh Bank Indonesia pada tahun 2008 menggambarkan bahwa posisi impor lebih tinggi dari pada ekspor. Secara rinci dijelaskan pada tabel berikut

Tabel 3.1 Proyeksi

       Sumber : Outlook Ekonomi Indonesia 2008-2012

Selain kondisi impor yang lebih tinggi dari pada kinerja ekspor yang terjadi pada perekonomian di Indonesia, terdapat  berbagai permasalahan utama di dalam peningkatan kinerja ekspor berkenaan dengan hal-hal sebagai berikut.

1)                  Daya saing produk ekspor yang masih relatif rendah di pasar internasional, mengakibatkan sulitnya merebut pangsa pasar yang lebih besar. Daya saing yang rendah tersebut disebabkan oleh ketergantungan produk ekspor terhadap komponen impor yang relatif tinggi, kelangsungan pasokan produk ekspor yang belum terjamin serta kualitas, dan disain yang kurang inovatif. Persaingan ekspor Indonesia Indonesia dengan Malaysia, Singapura, Thailand dan Vietnam digambarkan pada tabel berikut

Tabel 3.2

Indeks Identitas Ekspor dari Negara-negara ASEAN di Pasar ASEAN

Sumber: Publikasi Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Kementrian Perencanaan dan Pembangunan Nasional (BAPPENAS) 2010

2)        Komposisi komoditi ekspor Indonesia masih bertumpu pada keunggulan komparatif yang berkaitan dengan ekspor bahan mentah dari sumber daya alam, dan murahnya tenaga kerja. Di samping itu, beberapa komoditi andalan ekspor Indonesia pada umumnya merupakan komoditi primer yang diekspor dalam bentuk bahan mentah atau setengah jadi sehingga nilai tambah yang diperoleh relatif kecil;

3)        Permasalahan akibat hambatan nontarif di negara tujuan ekspor sangat berkaitan  dengan pengenaan safeguard dan antidumping measures atas beberapa produk ekspor Indonesia, masalah lingkungan, dan masalah ketenagakerjaan;

4)        Penetrasi pasar internasional cukup sulit, karena belum sepenuhnya memenuhi standar negara tujuan ekspor;

5)        Pesaing-pesaing baru dari kawasan Asia yang memiliki jenis-jenis produk ekspor yang hampir sama dengan ekspor Indonesia muncul; dan

6)        Masih terdapat ganjalan pada peningkatan hubungan perdagangan bilateral antara Indonesia dengan Singapura dalam kaitannya dengan data statistik perdagangan, dengan Malaysia dalam kaitannya dengan tuduhan dumping terhadap produk ekspor Indonesia, dengan Cina dalam kaitannya dengan tingkat tarif kuota (tariff rate quota) dan lisensi impor, serta perpajakan.

Tabel 3.3  Daftar FTA yang melibatkan Indonesia

Sumber: Publikasi Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Kementrian Perencanaan dan Pembangunan Nasional (BAPPENAS) 2010

Saat ini hampir seluruh komoditas dan produk ekspor Indonesia mengalami kenaikan atau stabil di pangsa pasar. Ini menunjukkan bahwa produk Indonesia cukup kompetitif di pasar ASEAN. Namun ada beberapa produk yang mengalami lonjakan turun di pasar, yakni bahan kimia, tekstil, bahan kulit, mesin dan alat-alat elektronik. Secara jelas pangsa pasar produk Indonesia di pasar Asean dijelaskan pada tabel berikut :

Tabel 3.2

Sumber: Publikasi Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Kementrian Perencanaan dan Pembangunan Nasional (BAPPENAS) 2010

Selanjutnya langkah yang akan ditempuh dalam rangka revitalisasi ekspor nonmigas adalah (1) penerusan upaya harmonisasi tarif untuk seluruh produk di dalam pos tarif nasional; (2) peningkatan efisiensi dan akuntabilitas prosedur ekspor-impor, yang mengarah ke paperless and on-line mechanism; (3) perluasan upaya perkuatan laboratorium pengujian produk ekspor dan impor; (4) pengembangan kebijakan fasilitasi perdagangan yang lebih efektif dan meningkatkan bantuan teknis dan finansial terutama untuk eksportir UKM; (5) peningkatan kerja sama perdagangan internasional, termasuk dalam rangka memperluas akses pasar ke negara-negara tujuan ekspor potensial, termasuk pengembangan kebijakan perdagangan luar negeri yang menunjang bisnis dan persaingan; (6) peningkatan jaringan informasi ekspor dan impor agar mampu merespon kebutuhan dunia usaha terutama eksportir kecil dan menengah;  (7) mengoptimalkan komite anti damping Indonesia untuk melindungi pasar dalam negeri, memaksimalkan fungsi Komite Pengamanan Perdagangan Indonesia (KPPI) dengan menerapkan safeguard atas lonjakan impor serta menggalakan peningkatan penggunaan produksi dalam negeri; (8) peningkatan iklim persaingan usaha yang sehat, melalui peningkatan kinerja kelembagaan persaingan usaha dan penataan kerangka peraturan persaingan usaha; (9) peningkatan efisiensi perdagangan dalam negeri melalui pengembangan sistem distribusi nasional untuk mendukung kinerja ekspor nasional, termasuk upaya peningkatan perlindungan konsumen melalui peningkatan kapasitas kelembagaan Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN) dan kelembagaan kemetrologian; (10) perluasan penerapan SNI dengan menyempurnakan sistem standardisasi nasional (SSN) serta memperluas kesadaran masyarakat akan pentingnya standardisasi dan peningkatan partisipasi mereka secara aktif di dalam pengembangan SNI; dan (11) memperluas kerja sama kelembagaan standardisasi baik bilateral, regional maupun internasional

DAFTAR PUSTAKA

  1. Merriam-Webster’s (2003). Collegiate Dictionary. 11th ed. 2003. Merriam-Webster,Inc. hal 441. United States of America
  2. Deresky, Helen (2006). International Management. 4th ed.. Addison – Wesley. Hal 237. United States of America
  3. Daniels,et all (2009). International Business. 12Th Ed. New Jersey. Pearson Education International. hal 548 – 551. Inggris
  4. Wild, J John; Kenneth, J Wild; dan Jerry, C Y Han (2008). International Business Management. 4th ed. Pearson Prentice Hall. Hal. 353-356. United States of America
  5. Peng, W Mike (2009). Global Business. Canada. South-Western Cengage. Hal 239. Inggris
  6. Situs Media Indonesia: Profil Komoditas Ekspor Indonesia Telah Berubah. Diakses pada tanggal 19 April 2010
  7. Donal Ball et al (2007). Internastional Business. Bisnis Internasional. Salemba Empat Jakarta
  8. Sumarwan (2011). Menjelajah Dahsyatnya Pasar Ekspor. Panduan Praktis dan Taktis Menembus Pasar Ekspor. Jogja Bangkit Publisher. Jogjakarta
  9. Jeff Madura (1997). International Financial Management. 5th edition. International Thomson Publishing. Cincinnati, Ohio
  10. Purnomo Yusgiantoro (2004). Manajemen Keuangan internasional. Teori dan Praktik. Lembaga Penerbitan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Jakarta
  11. Hamdy hady (2009). Ekonomi Internasional, Teori dan Kebijakan Keuangan Internasional. Buku Kedua. Ghalia Indonesia. Bogor
  12. Maurice D Levi (2004). Keuangan Internasional Buku I. Mcgraw-Hill Book Co. Dan Penerbit ANDI. Yogyakarta
  13. Sukirno, Sadono, Teori Pengantar Makroekonomi. Jakarta : PT. Rajagrafindo Persada.
  14. N. Gregory Mankiw (2006). Makroekonomi. Edisi keenam. Erlangga Jakarta
  15. Sugiyanto (2007) Factors Affecting The Indonesian Rupiah Exchange Rate Behavior with Respect to the American Dollars in Indonesia in The Periods of 1986 – 1997: Synthesis of Monetary and Portfolio Approaches. Post Graduate Airlangga University. (Tesis)
  16. Deddy Rustiono (2008) Analisis Pengaruh Investasi, Tenaga Kerja, dan Pengeluaran Pemerintah Terhadap Pertumbuhan Ekonomi di Provinsi Jawa Tengah. Magister Ilmu Ekonomi & Studi Pembangunan UNDIP. Jawa Tengah
  17. Amalia Adininggar Widyasanti (2010) Perdagangan Bebas Regional dan Daya Saing Ekspor. Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional
  18. http://jurnal-sdm.blogspot.com/2009/06/nilai tukar mata uang faktor faktor html (2012
  19. http://ilerning.com/index.php?option=com_content&view=article&id=545:faktor-faktor-yang-mempengaruhi-nilai-kurs&catid=41:pasar-uang-internasional&Itemid=72(2012)
  20. http://ramdina.wordpress.com/2010/12/29/perdagangan-internasional/(2012)
About these ads
 
Leave a comment

Posted by on March 20, 2012 in Uncategorized

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: